Rabu, 09 Mei 2012

ALERGI

Apa itu alergi ?
Alergi merupakan suatu reaksi menyimpang dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap zat/bahan yang secara normal tidak berbahaya bagi tubuh, dan melibatkan sistem kekebalan tubuh terutama antibodi imunoglobulin E (IgE).
Untuk mengetahui kemungkinan adanya reaksi alergi di dalam tubuh seseorang dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar IgE di dalam darah. Seseorang dengan kadar IgE yang berada pada ambang batas tinggi akan memiliki kecenderungan mudah mengalami reaksi alergi.
Apa penyebab Alergi?
Alergi terjadi karena pengaruh faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup tidak sehat. Para ahli menyebut alergi sebagai gangguan imunitas tubuh akibat kelainan genetika.
Bagaimana gejalanya ?
·         Mata merah, bengkak, dan berair
·         Hidung mengeluarkan banyak lendir dan bersin saluran napas berlendir, batuk, sesak napas, napas berbunyi (seperti asma)
·         Lambung / usus halus menjadi lebih aktif, sehingga menyebabkan diare dan gangguan pencernaan lainnya
·         Persendian terasa sakit, kemerahan, dan bengkak
·         Kulit menjadi berbercak merah / timbul biduran disertai dengan rasa gatal

Bagaimana diagnosisnya ?
Diperlukan pemeriksaan alergi untuk menentukan alergen (faktor lingkungan yang berperan memicu reaksi alergi) penyebab, antara lain:
·         Anamnese atau wawancara dengan pasien
·         Tes Tusuk Kulit / Skin Prick / Puncture Testing, dilakukan dengan meletakkan setetes ekstrak / bahan-bahan alami alergen di permukaan kulit
·         Tes Kulit / Intracutaneous Test
·         Tes Tempel / Patch Test, dilakukan dengan meletakkan bahan-bahan kimia dalam suatu tempat khusus, seperti plester, lalu menempelkannya pada kulit punggung
·         RAST / Radioallergosorbent Test, merupakan pemeriksaan darah yang akurat untuk mengukur kadar IgE spesifik dalam darah

Pengobatan yang dilakukan
·         Antihistamin, adalah obat yang umum digunakan untuk mengatasi berbagai alergi rinitis, bekerja menghambat kerja histamin.
·         Kortikosteroid, obat jenis steroid yang dikenal sebagai antiradang kuat, umumnya untuk mengatasi gejala alergi yang parah.
·         Kromalin, obat jenis non-steroid yang digunakan untuk mengobati alergi rinitis musiman atau kronis.
·         Adrenalin, digunakan untuk mengatasi shock anafilaktik, reaksi alergi terparah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan pengerutan saluran pernapasan dalam paru-paru, sehingga menimbulkan mengi yang parah, turunnya tekanan darah, pingsan, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan yang dapat dilakukan
·         Penghindaran
·         Cara hidup yang baik
·         Pemakaian obat-obatan
Dampak yang ditimbulkan oleh Alergi
·         Reaksi asma (batuk, mengi, sesak napas)
·         Bersin, pilek, hidung mampet
·         Gatal-gatal

RUJUKAN :

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)


Apa itu AIDS ?
AIDS atau disebut juga dengan sindroma penurunan kekebalan adalah suatu penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh disebabkan oleh virus.
Apa penyebab AIDS ?
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Bagaimana gejalanya ?
Infeksi tahap awal (Pembawa sifat AIDS):
·         Tidak menunjukkan gejala, mungkin berlangsung sampai bertahun-tahun tanpa disadari penderitanya.

Infeksi tahap menengah (Gejala AIDS):
·         Flu yang berulang-ulang (lesu, demam, berkeringat, otot sakit, pembesaran kelenjar limfa, dan batuk)
·         Infeksi mulut dan kulit yang berulang-ulang (sariawan)
·         Atau muncul gejala-gejala lain yang selalu kambuhan, karena sudah mengalami penurunan kekebalan tubuh

Infeksi tahap akhir (Penyakit AIDS):
·         Berat badan menurun dengan cepat, disertai dengan diare kronik, batuk, sesak napas (infeksi paru-paru, tuberkolosis yang telah meluas)
·         Terlihat bintik-bintik atau bisul berwarna merah muda atau ungu (kanker kulit yang disebut sarcoma Kaposi)
·         Pusing-pusing
·         Bingung
·         Infeksi otak

Bagaimana diagnosisnya ?
·         Dengan melakukan test HIV, test yang paling sering dipakai adalah tes ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay), dengan mengambil sampel darah. Tes ini dapat mendeteksi adanya   antibody yang dihasilkan tubuh.
·         Test Western Blot, test ini dilakukan untuk memastikan hasil tes ELISA

Pengobatan yang dilakukan
·         Beberapa jenis obat yang dapat membantu :
1.       AZT (azidothymidine)
2.      ddc
3.      ddl
·         Terapi gen ribozim

Pencegahan yang dapat dilakukan
·         Tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi HIV
·         Penggunaan kondom karet secara benar dan konsisten, walaupun kondom tidak sepenuhnya menghilangkan risiko tersebut

Dampak yang ditimbulkan oleh AIDS
·         Kehilangan berat badan secara drastis
·         Diare yang berkelanjutan
·         Pembengkakan pada leher dan/atau ketiak
·         Batuk secara terus menerus

RUJUKAN :

Senin, 07 Mei 2012

PATOFISIOLOGI MALARIA

PATOFISIOLOGI MALARIA

Demam atau dalam bahasa medis disebut dengan febris merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh,  dimana suhu tersebut melebihi dari suhu tubuh normal. Mungkin kita bertanya, mengapa suhu tubuh kita meningkat?? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mencoba melihat kembali dan memahami tentang sistem pengaturan suhu tubuh kita. Suhu tubuh kita diatur oleh sebuah “mesin khusus” pengatur suhu yang terletak di otak tepatnya di bagian hipotalamus tepatnya dibagian pre optik anterior (pre = sebelum, anterior= depan) Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari deinsephalon yang merupakan bagian dari otak depan kita (prosencephalon). Hipotalamus dapat dikatakan sebagai mesin pengatur suhu (termostat tubuh) karena disana terdapat reseptor (penangkap, perantara) yang sangat peka terhadap suhu yang lebih dikenal dengan nama termoreseptor (termo = suhu). Dengan adanya termorespetor ini, suhu tubuh dapat senatiasa berada dalam batas normal yakni sesuai dengan suhu inti tubuh. Suhu inti tubuh merupakan pencerminan dari kandungan panas yang ada di dalam tubuh kita. Kandungan panas didapatkan dari pemasukan panas yang berasal dari proses metabolisme makanan yang masuk ke dalam tubuh. Pada umumnya suhu inti berada dalam batas 36,5-37,5°C. Dalam berbagai aktivitas sehari-hari, tubuh kita juga akan mengelurakan panas misalnya saat berolahraga. Bilamana terjadi pengeluraan panas yang lebih besar dibandingkan dengan pemasukannya, atau sebaliknya maka termostat tubuh itu akan segera bekerja guna menyeimbangkan suhu tubuh inti.Bila pemasukan panas lebih besar daripada pengeluarannya, maka termostat ini akan memerintahkan tubuh kita untuk melepaskan panas tubuh yang berlebih ke lingkungan luar tubuh salah satunya dengan mekanisme berkeringat. Dan bila pengeluaran panas melebihi pemasukan panas, maka termostat ini akan berusaha menyeimbakan suhu tersebut dengan cara memerintahkan otot-otot rangka kita untuk berkontraksi(bergerak) guna menghasilkan panas tubuh. Kontraksi otot-otok rangka ini merupakan mekanisme dari menggigil. Contohnya, seperti saat kita berada di lingkungan pegunungan yang hawanya dingin, tanpa kita sadari tangan dan kaki kita bergemetar (menggigil). Hal ini dimaksudkan agar tubuh kita tetap hangat. Karena dengan menggigil itulah, tubuh kita akan memproduksi panas. Hal diatas tersebut merupakan proses fisiologis (keadaan normal) yang terjadi dalam tubuh kita manakala tubuh kita mengalamiperubahan suhu. Lain halnya bila tubuh mengalami proses patologis (sakit). Proses perubahan suhu yang terjadi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh “zat toksis (racun)” yang masuk kedalam tubuh.Umumnya, keadaan sakit terjadi karena adanya proses peradangan (inflamasi) di dalam tubuh. Proses peradangan itu sendiri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh. Proses peradangan diawali dengan masuknya “racun” kedalam tubuh kita. Contoh “racun” yang paling mudah adalah mikroorganisme penyebab sakit. Mikroorganisme (MO) yang masuk ke dalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin/racun tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen. Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya yakni dengan memerintahkan “tentara pertahanan tubuh” antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). Dengan adanya proses fagositosit ini, tentara-tentara tubuh itu akan mengelurkan “senjata” berupa zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya interleukin 1/ IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus (sel penyusun hipotalamus) untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat bisa keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2.Proses selanjutnya adalah, asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin pun berkat bantuan dan campur tangan dari enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin ternyata akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus. Sebagai kompensasinya, hipotalamus selanjutnya akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). suhu di luar tubuh sekarang berada dibawa dari suhu dalam tubuh dalam artian disini terjadi peningkatan suhu dalam tubuh, keadaan ini memberikan ketidak seimbangan diluar dan di dalam tubuh dan akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak atau dapat diberikan selimut.. Literature lainyya menjelaskan bahwa kontraksi otot (menggigil) memberikan dampak berupa penurunan suplai darah ke jaringan. Dengan demikian tubuh akan mengeluarkan panas berupa keringat . Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang “setting” hipotalamus yang mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam atau febris. Demam yang tinggi pada nantinya akan menimbulkan manifestasi klinik (akibat) berupa kejang (umumnya dialami oleh bayi atau anak-anak yang disebut dengan kejang demam)Dengan memahami mekanisme sederhana dari proses terjadinya demam diatas, maka salah satu tindakan pengobatan yang sering kita lakukan adalah mengompres kepala dan meminum obat penurun panas misal yang sangat familiar adalah parasetamol.
Proses terjadinya berkeringat juga dijelaskan dalam literatur lain bahwa pemeriksaan mikroskropis malaria membutuhkan syarat-syarat tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%).  
Seperti Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit. Disini dapat disimpulkan bahwa terjadi proses peralihan suhu dalam tubuh dan diluar, yang dimana proses ini merupakan suhu tinggi dalam tubuh menjadi rendah akhirnya secara tidak langsung tubuh akan mengeluarkan panasnya berupa berkeringat.

REFRENSI:
Stefan Silbernagl & Florian Lang (Color Atlas Of Pathophysiology) text book

FISIOLOGI PUBERTAS SERTA EFEK DARI HORMON-HORMONNYA

FISIOLOGI PUBERTAS WANITA


Jaras Hipotalamus-Hipofisis-Gonad Merupakan bagian utama dalam perkembangan dan regulasi berbagai sistem tubuh, terutama sistem reproduksi.
            Hipotalamus mensekresi GnRH (gonadotropin releasing hormone) selanjutnya, hormon ini merangsang hipofisis anterior untuk mensekresikan hormon-hormon gonadotropin, meliputi LH (luteinizing hormone) dan FSH (folicle stimulating hormone).
            Pada wanita, FSH merupakan perangsang utama dalam pertumbuhan folikel, dalam keadaan ini terjadi perangsangan sel theca yang menghasilkan estrogen, yang berfungsi untuk memberikan umpan balik ke hipotalamus dan hipofisis untuk memproduksi LH.
            LH akan memicu penyelesaian oogenesis, menstimulasi produksi progresteron, dan menyebabkan ruptur folikel dalam ovarium, sehingga menyebabkan ovulasi. Jika terjadi pembuahan, progresteron akan dihasilkan oleh janin, hingga ovulasi selanjutnya tidak akan terjadi lagi. Jika tidak terjadi pembuahan, sekresi progresteron akan menurun sehingga hipotalamus akan kembali menghasilkan GnRH.



Efek Estrogen dan Progrestin pada wanita

ESTROGEN
               
Efek dari estrogen adalah menstimulasi proliferasi seluler dan pertumbuhan organ seks dan jaringan lainnya terkait reproduksi. Berikut adalah efek estrogen secara spesifik:

Uterus dan organ seks eksternal
Pada masa pubertas, estrogen diproduksi sekitar 20 kali lipat lebih banyak dibanding masa prepubertas. Peningkatan kadar hormon ini, bersamaan dengan penimbunan lemak, menyebabkan perubahan-perubahan spesifik yaitu pembesaran ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina.

Tuba fallopi
estrogen juga meningkatkan jumlah dan aktivitas sel-sel silia, yang penting dalam pergerakan ovum yang telah difertilisasi.

Payudara
Estrogen menyebabkan perkembangan jaringan stromal pada kelenjar payudara, pertumbuhan sistem duktus, serta deposisi lemak. Lobulus-lobulus dan alveoli berkembang menjadi lebih luas.

Sistem rangka
Estrogen menghambat aktivitas osteoklas sehingga mengurangi penyerapan osteosit dan meningkatkan pertumbuhan tulang. Estrogen juga menyebabkan penyatuan epifisis pada tulang-tulang panjang. Diketahui bahwa efek estrogen pada wanita lebih kuat dibandingkan efek testosteron pada pria, namun penghentiannya yang cepat menyebabkan wanita cenderung lebih pendek dibanding pria.

Deposisi protein
Estrogen menyebabkan peningkatan protein total tubuh, hal ini dibuktikan oleh keseimbangan nitrogen yang lebih positif setelah pemberian estrogen.

Deposisi lemak
Estrogen meningkatkan jumlah lemak subkutan dan mendeposisinya pada daerah-daerah tertentu seperti payudara, bokong, dan paha sehingga memunculkan gambaran melekuk wanita yang khas.

Distribusi rambut
Estrogen tidak memiliki efek besar terhadap pendistribusian rambut. Adapun tumbuhnya rambut di daerah pubis dan aksila merupakan peran dari androgen adrenal.

Kulit
Estrogen menyebabkan kulit wanita memiliki tekstur yang lembut dan halus namun lebih tebal jika dibandingkan dengan kulit anak-anak. Selain itu estrogen juga menyebabkan kulit menjadi lebih vaskular. Hal ini sering diasosiasikan dengan peningkatan suhu pada kulit dan perdarahan yang lebih banyak jika terjadi sayatan pada kulit wanita dibandingkan dengan kulit pria.

Kesetimbangan elektrolit
Estrogen menyebabkan retensi air dan sodium oleh tubulus-tubulus ginjal.

PROGESTERON
                terpenting adalah progesteron. Pada wanita yang sedang tidak hamil, progesteron diproduksi oleh korpus luteum pada paruh terakhir siklus ovarium. Fungsi progesteron berdasarkan organ yang dipengaruhinya adalah:

Uterus
Fungsi terpenting progesteron adalah meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium uterin selama paruh akhir siklus seksual sehingga mempersiapkan uterus untuk implantasi ovum. Selain itu progesteron juga mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi uterine, sehingga dengan demikian mengurangi risiko terjadinya peluruhan ovum yang telah diimplantasi.

Tuba fallopi
Progesteron meningkatkan sekresi lapisan mukosa yang ada pada tuba fallopi. Sekresi ini diperlukan untuk nutrisi ovum yang telah difertilisasi sebelum mengalami implantasi.

Kelenjar payudara
Progesteron memicu perkembangan lobulus dan alveoli pada payudara, menyebabkan sel-sel alveolar berproliferasi, membesar, dan menjadi sekretorik. Namun progesteron tidak berperan dalam sekresi ASI.




FISIOLOGI PUBERTAS PADA PRIA

Pada pria, LH akan merangsang sel leydig untuk menyekresi testosteron di testis. Hormon testosteron akan melekat pada sel sertoli untuk memulai spermatogenesis, selain itu, testosteron pun memiliki mekanisme umpan balik negatif.

Sedangkan FSH akan langsung berikatan dengan sel sertoli untuk menstimulasi pengeluaran cairan testikular dan sintesis protein reseptor androgen pada sel spermatogonium. Sel sertoli ini akan menghasilkan inhibin/follistatin dan mengaktifkan sebagai mekanisme umpan balik negatif.

Testosteron pada Pria
 
Setelah pubertas, peningkatan sekresi testosterone menyebabkan testis, skrotum, dan penis membesar kira-kira delapan kali lipat sebelum mencapai usia 20 tahun. Selain itu, testosterone menyebabkan sifat kelamin sekunder pria berkembang,  mulai saat pubertas dan berakhir pada maturitas.5,6

Efek dari testosteron adalah:

Distribusi rambut tubuh
Testosteron menimbulkan pertumbuhan rambut di atas pubis, di sepanjang linea alba kadang-kadang sampai ke umbilicus dan di atasnya, wajah, dada dan ada kemungkinan pada punggung.

Kebotakan
Testosteron mengurangi pertumbuhan rambut di bagian atas kepala. Akan tetapi, banyak pria  juga tidak menjadi botak karena kebotakan merupakan akibat dari dua factor yaitu latar belakang genetic untuk mengalami tidak kebotakan dan superimposisi dari latar belakang genetik ini, yaitu banyaknya hormon androgen.

Suara
Testosteron yang disekresi oleh testis ke dalam tubuh akan menimbulkan hipertrofi mukosa laring dan pembesaran laring. Pengaruh pada suara orang dewasa yang khas.

Ketebalan kulit serta memicu pertumbuhan jerawat
Testosteron meningkatkan ketebalan kulit di seluruh tubuh dan meningkatkan ke kasaran jaringan subkutan. Testosteron juga meningkatkan kecepatan sekresi beberapa atau semua kelenjar sebasea tubuh. Hal yang paling penting adalah kelebihan sekresi oleh kelenjar sebasea wajah dapat menyebabkan jerawat.

Pembentukan protein dan perkembangan otot
Salah satu karakteristik pria adalah terjadinya peningkatan perkembangan otot yang mengikuti masa pubertas. Rata-rata sekitar 50% massa otot pria meningkat melebihi massa otot wamita. Hal ini berhubungan dengan peningkatan protein di bagian lain dari tubuh yang tidak berotot.


Referensi
  1. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11th ed. Pennsylvania: Elsevier Inc; 2006. p. 1011-22.
  2. Sheerwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2001. p. 633-732.
  3. Vander et.al. Human physiology – the mechanism of body function. 8th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2001. p. 681-3.
  4. Ganong WF. Review of medical physiology. 20th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2001. p.505-6.

PATOFISIOLOGI RABUN JAUH YANG MENYEBABKAN SAKIT KEPALA


PATOFISIOLOGI

Pada rabun jauh (miopia, mata minus), sumbu mata terlalu panjang atau kornea mata terlalu cembung, sehingga bayangan benda jatuh di depan retina. Akibatnya, benda yang jauh tidak terlihat jelas.

Tanpa kacamata (dengan lensa asferis negatif), penderita rabun jauh, akan sering mengalami sakit kepala dan nyeri pada mata. Gejalanya, kepala nyeri berdenyut terutama bagian depan, bola mata perih dan berat, rasa seperti mau keluar, dan air mata meleleh berlebihan. Keadaan ini biasanya membaik bila mata diistirahatkan atau dengan minum obat antinyeri, tetapi seringkali kambuh beberapa waktu kemudian.

Mungkin ada yang bertanya, koq bisa rabun jauh menyebabkan sakit kepala?

Saat melihat benda jauh, bayangan jatuh di depan retina. Oleh suatu mekanisme yang otonom dan terintegrasi yang melibatkan sistem saraf sensoris, motoris, dan otot serta struktur mata lainnya, keadaan ini dikompensasi dengan mengurangi kecembungan lensa. Caranya, dengan menarik lensa menggunakan ligamentum suspensorium sehingga lensa menjadi lebih pipih. kok Bisa?! Ya bisa, karena lensa mata bersifat elastis dan kecembungannya dapat berubah. Perubahan kecembungan ini dinamakan kemampuan akomodasi mata.

Mata yang berakomodasi terus menerus dalam waktu yang lama akan menimbulkan kelelahan. Nah kelelahan mata inilah yang mencetuskan nyeri kepala dan nyeri pada mata.

REFRENSI:
Nield, LS; Mangano, LM (April 2009). "Strabismus: What to Tell Parents and When to Consider Surgery" . Consultant 49 .
http://www.orbis.org/Default.aspx?cid=5615&lang=1

PATOFISIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE



PATOFISIOLOGI
Pertama-tama adanya virus yang masuk ke dalam tubuh manusia yang mengaktifkan kompleks virus-Ab (monosit & makrofag) yang akan menimbulkan :

1.   Pengeluaran IL1, IL6 dan TNF (tumor necrosis factor) dari hasil fagositosis terhadap virus. Hal ini memberikan respon ke hypothalamus untuk  membentuk asam arakhidonat  dan setelah itu membentuk prostaglandin. Kehadiran prostaglandin ini memberikan respon ke seluruh tubuh berupa suhu yang meningkat (Demam).
2.    Pengeluaran Histamin yang mengakibatkan Vasodilatasi (vasoaktif), jika keadaan ini terjadi pada pembuluh darah otak maka dapat mengakibatkan gangguan tekanan intracranial yang akan memicu sakit kepala.
3.    Aktivasi monosit dan makrofag terhadap adanya virus akan merangsang komplemen. Zat ini juga bersifat vasoaktif yang akan meningkatkan permeabilatas pembuluh darah, mekanisme ini cenderung mendorong terjadinya coagulant/pembekuan darah (procoagulant). Akibatnya dapat memicu laju pacu jantung menjadi menurun sehingga memudahkan terjadinya hipotensi pada seseorang. Peningkatan permeabiliatas juga meningkatkan resiko perdarahan yang diakibatkan adanya bahan-bahan mediator tersebut yang akan mempengaruhi sel-sel endotel dinding pembuluh darah, namun secara jelasnya belum diketahui.
4.    Perubahan imunulogi seluler karena adanya virus yang selalu bereplikasi terkhususnya virus dengue. Hal ini memberikan respon yang signifikan terhadap system imun seluler untuk membunuh virus yang sekaligus mengorbankan dirinya sendiri yang lama kelamaan akan mengakibatkan leukopenia.
   
   Hal lain yang dikemukakan bahwasanya virus yang masuk kedalam tubuh manusia akan mengalami agregasi yaitu proses menempelnya virus dengue terhadap trombosit. Proses ini secara bersamaan akan mengakibatkan fagositosis oleh monosit ataupun makrofag yang dimana keadaan yang akut ataupun kronik dapat menimbulkan trombositopenia. Hal tersebut memudahkan terjadinya perdarahan.
      
      REFRENSI :
·         Stefan Silbernagl & Florian Lang (Color Atlas Of Pathophysiology) text book
·         Journal Of Virulogy 2006;80:11418-31