Rabu, 09 Mei 2012

DISPEPSIA (SAKIT MAAG)


Apa itu Sakit Maag ?
Sakit maag atau tukak lambung, atau dalam bahasa kedokteran disebut dispepsia, adalah kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri ulu hati, atau perasaan tidak nyaman yang berasal dari saluran cerna atas, disertai dengn perasaan cepat kenyang, sendawa, mual sampai muntah. Keluhan itu berlangsung kronik, selama 3 bulan dan kambuh-kambuhan setidaknya dalam 6 bulan terakhir.
Apa penyebab Sakit maag ?
Sakit maag terjadi akibat tingginya kadar asam di dalam lambung yang menyebabkan iritasi pada dinding lambung, hingga menimbulkan gejala nyeri pada perut. Terjadinya sakit maag dapat dipicu oleh berbagai faktor, diantaranya pola makan, psikis seperti stres dan juga adanya infeksi H.pylori.
H.pylori merupakan bakteri yang dapat hidup dan berkembang biak di saluran cerna manusia, lebih tepatnya di bawah lapisan selaput lendir dinding bagian dalam lambung (mukosa lambung). Adanya infeksi H.pylori tersebut dapat menimbulkan peradangan pada dinding lambung.
Bagaimana gejalanya ?
·         Mual
·         Perih
·         Kembung
·         Nafsu makan berkurang

Bagaimana diagnosisnya ?
·         Riwayat Medis
o    Dokter akan menanyakan secara mendetail mengenai riwayat dari gejala sakit yang menjadi keluhan dan mencari hubungannya dengan factor risiko penyebab yang mungkin terlibat.
·         Pemeriksaan Fisik
o    Dokter akan memeriksa perut (abdomen) bagian bawah dengan menekan-nekannya untuk mengetahui apakah ada pembengkakan (sakit).
·         Pemeriksaan Laboratorium
o    Urea Breath Test / UBiT(Test urea pernapasan), untuk diagnosa maupun mengevaluasi efektivitas pengobatan terhadap infeksi H. pylori, kuman penyebab tukak lambung. Pada pemeriksaan ini, pasien akan diminta untuk meminum larutan reagen 13C-Urea, yaitu urea berlabel radioaktif yang aman untuk dikonsumsi. Setelah meminum larutan, dilakukan penampungan sample nafas yang akan digunakan sebagai bahan pemeriksaan.
o    Endoskopi saluran pencernaan bagian atas. Dilakukan dengan menyusupkan sebuah tabung intai lentur melalui mulut untuk memeriksa bagian dalam oesofagus, lambung dan duodenum (usus 12 jari) untuk mencari adanya kelainan. Dokter bisa memeriksa dinding saluran pencernaan yang hasilnya terpampang di layar monitor. Tenggorokan pasien mungkin akan disemprotkan pembius lokal, dan/atau dibuat tidak sadar. Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar 25 menit.
·         Pemeriksaan Pendukung
1.      Endoskopi saluran pencernaan bagian atas. Dilakukan dengan menyusupkan sebuah tabung intai lentur melalui mulut untuk memeriksa bagian dalam oesofagus, lambung dan duodenum (usus 12      jari) untuk mencari adanya kelainan. Dokter bisa memeriksa dinding saluran pencernaan yang hasilnya terpampang di layar monitor. Tenggorokan pasien mungkin akan disemprotkan pembius lokal, dan/atau dibuat tidak sadar. Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar 25 menit.
2.      Scan ultrasonik perut.
3.      Sinar-x kontras barium. Bagian saluran pencernaan yang tidak terlihat dengan sinar-x biasa (datar) dapat dicitrakan dengan kontras barium. Untuk pemeriksaan oesofagus, lambung dan duodenum diberikan barium sulfat, zat penahan sinar-x, dalam bentuk minuman (prosedur barium telan).
4.      Biopsi. Pemeriksaan mikroskopis atas sebuah sel atau pun sekumpulan besar jaringan berisi berbagai sel untuk memastikan diagnosis berbagai kelainan tubuh.

Pengobatan yang dilakukan
Penanganan tanpa obat
Bila sakit maag yang dirasakan tergolong baru dan ringan, antara lain dengan cara:
·         Hindari perut kosong
·         Atur jadwal makan dengan porsi kecil dan frekuensi lebih sering
·         Makan makanan lunak / mudah dicerna
·         Hindari makanan / minuman yang mengandung alkohol, gas karbondioksida (soft drink), kopi, cokelat
·         Hindari stress
·         Penanganan dengan obat

Baru dilakukan jika penanganan tanpa obat tidak berhasil.
·         Antasida penetral asam lambung. Senyawa basa lemah yang bereaksi dengan asam hidroklorida (HCl) lambung untuk membentuk garam dan air. Mengurangi keasaman lambung. Umumnya  antasida dapat dibeli bebas (OTC) tanpa resep dokter. Banyak dokter yang sepakat, bahwa antasida bentuk cair lebih manjur (bekerja lebih cepat) daripada  bentuk padatnya (tablet).
·         Anti sekresi asam lambung
·         Acid atau histamin (H-2) blockers, antagonis Receptor H-2
·         Penghambat pompa proton
·         Pelindung Mukosa
·         Antibiotik

Pencegahan yang dapat dilakukan
·         Makanlah secara disiplin, sesuai dengan jadwal
·         Makanlah buah-buahan dan sayur-sayuran
·         Hindarilah makanan yang pedas, asam, atau berlemak, jika makanan tersebut membuat gejala tukak Anda menjadi makin buruk
·         Jangan minum susu, karena diketahui bahwa kalsium dalam laktosa (asam lemak susu) dapat meningkatkan sekresi asam di dalam lambung. Gunakan susu krim atau susu berkadar lemak rendah.
·         Batasi makanan yang asam, seperti jeruk, karena dapat menyebabkan rasa perih di saluran pencernaan yang luka
·         Berhentilah merokok
·         Minumlah obat antasida yang dijual bebas
·         Periksalah obat-obatan Anda, jika perlu menggunakan obat penghilang rasa nyeri untuk mengatasi demam atau flu, pilih yang mengandung parasetamol (asetaminofen). Hindari obat-obatan yang mengandung aspirin, ibuprofen, ketoprofen dan natrium naproksen (naproxen sodium).

Dampak yang ditimbulkan oleh Sakit Maag
Bila tidak ditangani dapat menjadi gejala kanker lambung.

Rujukan :

DEMAM BERDARAH


Apa itu Demam Berdarah ?
Demam berdarah atau demam dengue adalah demam virus akut yang umumnya disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi atau tulang, ruam, dan gejala – gejala penurunan jumlah sel darah putih (leucopenia)

Apa penyebab Demam Berdarah ?
Infeksi virus dengue yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Bagaimana gejalanya ?
·         Demam tinggi (>39OC)
·         Fenomena pendarahan, sering dengan pembesaran hati
·         Pada beberapa kasus terjadi gangguan sirkulasi darah

Bagaimana diagnosisnya ?
·         Diagnosis klinik:
1.      Suhu badan tiba-tiba meninggi
2.      Demam yang berlangsung hanya beberapa hari
3.      Nyeri terutama di otot-otot dan persendian
4.      Adanya ruam pada kulit
·         Pemeriksaan laboratorium
1.      Dengue NS1 Antigen
2.      Hematologi rutin
3.      Anti Dengue IgG & IgM

Pengobatan yang dilakukan
·         Pemberian cairan tubuh (lewat minuman atau elektrolit) untuk mencegah dehidrasi akibat demam dan muntah
·         Konsumsi obat yang mengandung acetaminofen (misalnya tilenol) untuk mengurangi nyeri dan menurunkan demam serta banyak istirahat
·         Bagi pasien dengan demam berdarah yang lebih parah, akan sangat disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit, pemberian infus dan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh, serta transfusi darah akibat pendarahan yang terjadi

Pencegahan yang dapat dilakukan
- Pemberantasan vector nyamuk Aedes Aegypti dengan :
·         Menggunakan insektisida
1.      Malathion (untuk membunuh nyamuk dewasa), dengan pengasapan atau pengabutan. Dapat digunakan berbagai jenis insektisida yang disemprotkan di dalam kamar atau ruangan.
2.      Abate (untuk membunuh jentik nyamuk), dengan menaburkan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk (penampungan air bersih)
·         Tanpa insektisida
1.      Menguras bak mandi dan tempat penampungan air minimal 1x seminggu
2.      Menutup tempat penampungan air rapat-rapat
3.      Membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng bekas, dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang
- Isolasi penderita, agar penderita tidak digigit vector (nyamuk) lain untuk ditularkan kepada orang lain
- Mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat (anti nyamuk) gosok

Dampak yang ditimbulkan oleh Demam Berdarah
Apabila tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi gejala Dengue Shock Syndrome (DSS), bahkan dapat berakibat kematian.

RUJUKAN :

DIABETES MELITUS (DM)


Apa itu Diabetes Melitus?
Diabetes Melitus (DM) atau yang sering dikenal dengan penyakit kencing manis adalah kondisi dimana tubuh seseorang mengalami gangguan dalam mengendalikan kadar glukosa darah. Akibatnya, kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemia) secara berkepanjangan (kronik).
Secara garis besar, Diabetes Melitus dikelompokkan menjadi dua tipe yaitu DM tergantung insulin (DM tipe-1) dan DM tidak tergantung insulin (DM tipe-2). Sebagian besar kasus adalah DM tipe-2 yang banyak ditemukan pada orang yang mengalami obesitas atau kegemukan akibat pola hidup yang dijalaninya. Sementara, DM tipe-1 banyak dipengaruhi faktor keturunan, meski kontribusi faktor keturunan terhadap risiko DM hanya sebesar 5%. Selain itu, terdapat DM yang dikenal dengan DM gestasional yang terjadi selama masa kehamilan.
Apa penyebabnya ?
Diabetes Melitus terjadi karena kekurangan jumlah hormon insulin atau kurang sempurnanya kerja insulin, yaitu hormon yang bertugas membawa glukosa (gula) darah ke dalam sel untuk pembentukan energi.
Dalam keadaan sehat, tubuh kita akan menyerap glukosa dalam jumlah yang tepat dari makanan, kemudian menyimpan sisanya. Glukosa tersebut diperlukan tubuh sebagai bahan bakar. Glukosa yang diserap dari makanan akan diangkut ke seluruh tubuh melalui aliran darah, kemudian diberikan ke sel-sel organ tubuh yang memerlukan dengan bantuan insulin (hormon yang dihasilkan oleh pankreas). Bila jumlah glukosa berlebih, maka insulin membantu menyimpan kelebihan glukosa tersebut di dalam organ hati dan otot (dalam bentuk glikogen), atau diubah menjadi trigliserida yang disimpan di dalam jaringan penyimpan lemak (adiposa).
Insulin yang berikatan dengan reseptornya (seperti kunci dan anak kunci) dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel. Bila insulin tidak ada atau kerja insulin terganggu, maka glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel tetapi berada dalam pembuluh darah sehingga konsentrasi glukosa di dalam darah akan meningkat. Glukosa di dalam darah yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai masalah yang disebut komplikasi diabetes.

Apa saja gejala dan tandanya?
Gejala atau keluhan klasik DM :
·         Sering berkemih/kencing (poliuria),
·         Sering atau cepat merasa haus/dahaga (polidipsia),
·         Lapar yang berlebihan (polifagia),

Gejala lain :
·         Kehilangan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
·         Kesemutan/mati rasa pada ujung saraf di telapak tangan dan kaki
·         Cepat lelah dan lemah
·         Mengalami gangguan penglihatan secara tiba-tiba
·         Apabila terjadi luka/tergores, penyembuhannya lambat
·         Mudah terkena infeksi terutama pada kulit

Siapa sajakah yang berisiko?
Orang yang memiliki risiko terkena DM adalah mereka yang telah berusia > 45 tahun atau mereka yang berusia lebih muda tetapi mengalami kegemukan (Indeks Massa Tubuh > 23 kg/m2) dan disertai dengan faktor risiko lain sebagai berikut:
·         Kebiasaan tidak aktif
·         Orang tua menyandang DM
·         Riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir > 4 kg atau riwayat DM pada saat hamil (DM gestasional)
·         Kadar kolesterol HDL 250 mg/dl
·         Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang berhubungan dengan resistensi insulin (gangguan fungsi insulin)
·         Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
·         Riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah

Mereka yang memiliki risiko DM dianjurkan melakukan pemeriksaan glukosa darah secara berkala, setahun sekali atau sesuai dengan anjuran dokter. Bahkan akhir-akhir ini, para ahli menganjurkan untuk menambahkan pemeriksaan HbA1c untuk mendeteksi kondisi prediabetes dan juga untuk pemantauannya.

Bagaimana cara mendiagnosisnya?
Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara:
1.      Jika ditemukan gejala klasik DM, dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl. Glukosa sewaktu adalah hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
2.      Pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl dengan adanya keluhan klasik DM. Puasa diartikan individu tidak mendapatkan kalori tambahan selama minimal 8 jam.
3.      Pemeriksaan kadar gula plasma pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) ≥ 200 mg/dl. TTGO yang dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.

Terapi dan pengobatan apa yang diberikan?
Bila glukosa darah tidak dapat dikendalikan dengan pengaturan pola makan dan latihan fisik, maka dilakukan intervensi farmakologi yaitu dengan memberikan obat-obatan oral penurun kadar glukosa darah (hipoglikemik) dan bila diperlukan suntikan insulin.

Komplikasi dan Pencegahan
Penyandang DM yang tidak dapat mengendalikan kadar gula darahnya, berisiko mengalami komplikasi yang bersifat akut maupun kronik :
1.      Komplikasi akut dapat terjadi akibat kadar glukosa darah yang mendadak meningkat dangat tinggi atau mendadak turun menjadi sangat rendah yang dapat menyebabkan koma diabetes dan memerlukan perawatan gawat darurat
2.      Komplikasi kronik terjadi akibat glukosa darah yang terus-menerus tinggi dalam jangka waktu lama, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan aliran darah, yang dapat menyebabkan :
1.      Stroke
2.      Kebutaan
3.      Penyakit Jantung Koroner
4.      Penyakit Ginjal Kronik
5.      Luka yang sulit sembuh

Dengan pengelolaan diabetes yang baik, komplikasi-komplikasi tersebut dapat dicegah dan dihambat. Terdapat empat hal utama yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kadar gula darah:
1.      Mengikuti pola makan sehat
2.      Meningkatkan kegiatan jasmani/aktivitas fisik
3.      Pengobatan yang sesuai
4.      Melakukan pemantauan melalui pemeriksaan secara berkala

RUJUKAN :